Jumat, 18 November 2011

Don't Say Goodbye (Oneshot/Songfic)

Title :
Don’t Say Goodbye
Author :
JunEonnie
Cast :
Kang Min Kyung (Davichi)
Eun Pyung Ho
Rating :
PG
Genre :
Love, Romantic
Length :
Oneshot/Songfic
Ps :
Aku lagi suka banget liat mv-nya Davichi yang Don’t Say Goodbye, jalan ceritanya gimanaaaa gitu. Keseringan liat, eh malah jadi pengen bikin ff-nya. Akhirnya jadi deh ni ff abal-abal. Cerita yang aku buat mungkin ada yang gak sesuai sama cerita aslinya, mohon dimaklum ya!!

Oh iya, soal peran utama cowoknya, aku searching di situs-situs berita K-Pop namanya Eun Pyung Ho. Tapi pas aku buka fanpage detersindonesia, nama cowoknya itu Ji Yun Ho. Aku gak tau mana yang bener, tapi aku milih Eun Pyung Ho aja, soalnya dari awal udah ngetik si Pyung Ho,,hhe.

Terakhir, soal ceweknya Pyung Ho yang hilang. Nama aslinya bukan Kim Hye Seol. Aku udah nyoba searching di internet, tapi gak nemu. So, aku ngarang aja deh nama itu.
Udahlah, daripada banyak cingcong, mending langsung aja ke cerita. Happy reading..^^


Author’s POV

“Ah, satu menit lagi! Aku harus cepat-cepat!” seru Pyung Ho seraya melirik jam di dinding dan meletakkan gelas yang sedang ia pegang. Lekas ia mengambil catatan besarnya dan menuju balkon.

Di sana telah siap benda kesayangannya. Benda yang sangat dibutuhkannya semenjak ia menjadi mahasiswa di bidang astronomi. Teropong bintang.

Ia baru saja lulus beberapa bulan yang lalu dan sekarang sedang diberi masa percobaan oleh dosennya karena ia ingin sekali menjadi asisten dosennya itu.

3, 2, 1, dan melesatlah kabut kecil saat ia memusatkan teropong bintangnya ke langit. Kali ini prediksinya tepat lagi. Kabut kecil itu datang lagi malam ini. Segera ia mencatatnya di catatan besarnya. Dia yakin sekali, dosennya itu akan puas dengan hasil penelitiannya.

“Apa aku harus pergi ke rumah Yong seongsaenim malam ini? Aku yakin ia akan senang dengan hasilnya. Tapi apa aku tidak akan mengganggunya malam-malam begini?” ia bingung memilih antara pergi dan tidak. Tapi setelah yakin, akhirnya dia memutuskan untuk pergi menemui dosennya.

Sesuatu menghentikan langkahnya ketika ia melewati tempat sampah di depan rumahnya.

Seseorang telah membuang sampah dalam kantong plastik hitam yang sangat besar. Benda di dalam kantong plastik itu bergerak, menimbulkan suara berisik yang singkat.

Penasaran, ia mendekati kantong plastik itu dan menyentuhnya dengan kaki. Benda di dalamnya bergerak lagi.

“Sampah ini, apa isinya? Apakah binatang buangan yang masih hidup? Tapi, kenapa besar sekali?”

Perlahan namun pasti, ia membuka kantong plastik hitam itu. Ia terjatuh sendiri saking kagetnya melihat apa yang ada di dalamnya.

Seorang yeoja. Wajahnya sangat kotor sekali. Tubuhnya diam tak bergerak. Apa dia mati? Atau hanya pingsan? Kenapa dia?

Apa jangan-jangan, dia diculik lalu dibuang? Siapa yang tega melakukan itu? Kenapa orang itu membuangnya di tempat seperti ini?

Apa yang harus kulakukan? Apa aku harus membawanya ke dalam atau membiarkannya disini dan berpura-pura tak tahu? Toh disini tidak ada siapa-siapa. Tak ada satupun orang yang melihat. Eottokhae?

Begitulah, berbagai macam pertanyaan dan suara hati nurani berperang dalam pikiran dan hatinya. Yeoja itu, ia sama sekali tidak mengenalnya. Melihat wajahnya pun ia tak pernah.

Setelah lama ia memandangi yeoja itu, akhirnya…

“Haahhh…sepertinya aku harus membawanya kedalam. Ia butuh pertolongan.”

Author’s POV End

***

Pyung Ho’s POV

Niatku untuk pergi ke rumah Yong seongsaenim semalam batal karena yeoja itu. Aku membaringkannya di sofa semalam. Dan sampai pagi ini dia masih tertidur. Nyenyak sekali tidurnya.

Dia baru terbangun saat aku sedang memindahkan penelitianku pada notebook. Dia seperti bingung. Maklum, dia tak tahu sedang berada dimana sekarang. Ia melihat ke seluruh ruangan dan terkejut ketika melihatku. Aku hanya bisa tersenyum melihat keterkejutannya.

“Kau sudah bangun?” tanyaku. Tapi ia hanya diam saja. Ia masih heran dengan keberadaannya. “Baiklah, aku akan mengambilkanmu makanan, tunggu sebentar.” Aku beranjak dari tempatku dan pergi ke dapur. Aku mengambil beberapa makanan dingin di lemari es dan menghangatkannya.

Lucu sekali melihat bagaimana cara ia makan. Ia seperti tidak mendapat makanan selama berhari-hari.

Sepertinya ada yang kulupakan, apa ya? Oh iya, minum! Aku belum membawakan minuman untuknya. Aku pun kembali ke dapur dan membawakan segelas air putih untuknya.

Aku masih bisa menangkap ekspresi herannya. Dari tadi ia belum mengeluarkan suaranya sedikit pun. Apa ia bisu?

Aku menyadari bahwa wajahnya cantik. Walaupun wajahnya sangat kotor, tapi begitu putih dan mulus tanpa jerawat.

“Apa tidak enak?” tanyaku melihatnya yang diam saja menikmati makananku. Tapi ia tetap tidak bersuara dan hanya menggelengkan kepalanya lalu tertunduk malu.

“Ada makanan di sudut bibirmu.” ucapku melihat sebutir nasi yang menempel di sudut bibirnya. Ia langsung membersihkannya. Ckck, lucu sekali dia. Baiklah, aku akan menunggunya sampai selesai makan.

Pyung Ho’s POV End

***

Min Kyung’s POV

Dimana ini? Aku tak mengenal tempat ini. Berbagai macam pertanyaan langsung menyerbu pikiranku saat aku bangun di tempat asing ini. Sepertinya aku berada di sebuah rumah. Interiornya didominasi oleh warna putih yang membuat rumah itu berkesan bersih dan rapi.

Kusapu pandanganku ke sekeliling dan menemukan seorang namja sedang duduk menatapi layar notebook. Sontak aku terkejut dan rasa takut itu muncul lagi.

Namja itu melihatku dan melontarkan senyumannya yang hangat.

“Kau sudah bangun?” tanyanya. Saking kagetnya aku hanya bisa diam tanpa mengeluarkan suara sedikit pun. “Baiklah, aku akan mengambilkanmu makanan, tunggu sebentar.” lalu ia beranjak pergi ke sebuah ruangan, mungkin dapurnya.

Siapa namja itu? Kenapa aku bisa berada di rumahnya? Aku sempat mengira ia adalah namja sialan itu. Tapi aku lega karena dia bukan namja yang aku maksud.

Tanpa basa-basi aku langsung melahap makanan yang ia sediakan untukku. Makanan ini lezat sekali. Sudah 2 hari aku tidak makan, aku sudah seperti orang gila yang kelaparan saja. Ia pergi lagi ke dapur dan kembali dengan segelas air putih untukku.

Kenapa ia begitu baik padaku? Padahal aku ini adalah orang asing. Ia mengizinkanku tidur di sofanya dan memakan makanannya. Mungkin ia memang orang baik. Ia juga tampan menurutku. Tidak seperti namja sialan itu!

“Apa tidak enak?” tanyanya. Aku masih tidak mengeluarkan suara dan hanya membalasnya dengan gelengan kepala. Mungkin ia mengira aku bisu karena dari tadi aku tidak berbicara sedikitpun. Aku jadi malu sendiri dengan kelakuanku.

“Ada makanan di sudut bibirmu.” ucapnya memberitahu. Aku pun langsung membersihkannya.

Aku menyelesaikan makanku 15 menit kemudian. Dia bertanya lagi setelah aku meminum habis segelas air putih.

“Kau bisa berbicara kan?” tanyanya hati-hati, takut menyinggungku.

“Ne.” jawabku.

“Siapa namamu? Namaku Eun Pyung Ho.”

“Kang Min Kyung imnida.” jawabku singkat.

“Ok Min Kyung-ssi, kau bisa beritahu aku apa yang sudah terjadi padamu?”

“Ne. Sebelumnya aku mau minta maaf telah merepotkanmu Pyung Ho-ssi. Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa sampai disini, tapi yang pasti ini semua gara-gara kakak angkatku.” jelasku. Tentu saja ini menjadi sebuah kebingungan baginya.

“Kakak angkatmu? Namja atau yeoja? Dan kenapa dia yang melakukan ini padamu?” tanyanya dengan wajah penuh penasaran.

“Namja. Yang terakhir kuingat adalah, ia mengajakku ke suatu tempat di pinggir hutan setelah aku pulang sekolah. Lalu tiba-tiba dari belakang ia membungkam hidung dan mulutku dengan sapu tangan miliknya. Dan setelah itu, aku tidak ingat apa-apa lagi.” ucapku. Masih terbayang dengan jelas kejadian waktu itu.

“Maksudmu, kakakmu telah tega membuangmu di daerah sini?” terlihat ia masih tidak percaya dengan ucapanku.

“Ne. Kakak angkatku memang kejam. Ia iri padaku karena aku lebih diperhatikan oleh appa dan eommanya. Ia selalu menyiksaku jika appa dan eommanya tidak ada. Selama dua hari ini aku tidak diberi makan olehnya, malah aku ini dianggap pembantu.” ingatan itu muncul kembali di kepalaku, padahal aku tidak ingin mengingatnya lagi.

“Setega itukah kakak angkatmu?”

“Ne. Dia selalu tega melakukan apapun padaku. Rasa bencinya sudah sangat besar karena perhatian orang tuanya sudah kurebut. Mungkin saat ini ia bilang pada appa dan eommanya bahwa aku hilang saat sedang pergi jalan-jalan dengannya. Dia pandai berbohong.”

“Kalau begitu, kita lapor polisi saja!” usulnya.

“Andwae! Itu akan menambah panjang daftar masalahku dengannya. Biarlah seperti ini. Dia akan menganggapku tidak ada dan aku juga bisa hidup bebas. Aku takut bertemu dengannya lagi.” sergahku. Sampai kapanku aku tak akan pernah kembali pada namja sialan itu. Aku lebih baik memilih mati daripada hidup bersamanya lagi.

“Arasseo. Sekarang, apa yang akan kau lakukan?”

“Mollayo. Mungkin aku akan mencari tempat tinggal.” jawabku asal.

“Tinggal lah disini. Aku tidak keberatan. Walaupun rumahku besar, tapi aku membutuhkan teman untuk menemaniku agar tidak bosan. Otte?”

Aku terdiam mendengar tawarannya. Namja bernama Pyung Ho ini baik sekali. Sangat jauh berbeda dengan namja sialan itu. Apa mungkin disini aku bisa hidup tenang? Tapi jika aku menolak tawarannya, aku akan tinggal dimana?

Bodoh jika aku menolak tawaran sebaik ini. Lagipula, aku tidak akan berbuat yang macam-macam jika tinggal disini. Malah aku akan membantu menjaga rumahnya agar tetap bersih dan rapi.

Setelah beberapa menit aku menimbang-nimbang, akhirnya…

“Arraseo, aku mau.”

Min Kyung’s POV End

***

Pyung Ho’s POV

“Daerah ini…ah tidak mungkin! Disana tidak ada tempat yang tinggi. Mungkin daerah dekat Makpo bisa jadi pertimbangan.” aku berbicara sendiri dihadapan sebuah peta besar di dinding rumah. Masih tertinggal 3 penelitian lagi yang harus kuselesaikan.

Yang paling sulit adalah menentukan dimana kabut kecil itu akan muncul lagi. Biasanya kabut itu muncul di daerah yang agak tinggi dan muncul pada sore atau malam hari.

“Hmm, daerah dekat Mokpo ini juga sepertinya tidak mungkin, suhu udaranya terlalu rendah. Bukankah padang rumput dekat daerah sini juga tinggi ya? Mungkin saja…”

Krek!

Aku terhenti mendengar suara pintu kamar mandi yang terbuka. Sepertinya yeoja itu sudah selesai mandi. Lebih baik aku…

Omo! I’m speechless.

Aku tertegun melihat Min Kyung berbalut pakaian yang kupinjamkan. Ya Tuhan…neomu yeppeo! Kulitnya yang seputih susu itu memancarkan kecantikan yang sangat alami. Dia seperti, -bukan maksudku berlebihan-, bidadari. Tubuhnya itu seperti memancarkan cahaya.

Bahkan saat aku akan mengambil air dingin di lemari es, aku melihatnya sedang duduk di kursi dan mengeringkan rambutnya dengan handuk. Memang itu tidak aneh, tapi gerakannya itu, menggemaskan! Sampai-sampai aku tidak sadar telah memasukkan kepalaku sendiri ke dalam lemari es yang dingin. Terdengar cekikikannya yang merdu menertawakan sikap anehku. Ini memalukan!

***

Besok malamnya, aku menghabiskan malam di balkon bersama Min Kyung, sekalian aku harus memeriksa beberapa penelitianku. Kulihat ia tersenyum sangat manis ketika sedang menggambar sesuatu di buku catatan yang kuberikan. Aku ikut tersenyum melihat ia tersenyum, sepertinya aku terbawa suasana. Haahh…wajahnya begitu menentramkan.

“Waeyo?” tanyanya ketika sadar sedang kuperhatikan.

“Ani, aku hanya senang melihatmu tersenyum. Senyumanmu manis.” omo! Apa yang sudah kukatakan? Babo…

“Gomaweo…” ia menjawabnya dengan tersenyum. Sepertinya ia tidak berpikiran yang aneh-aneh, syukurlah.

“Emm, Pyung Ho-ssi…”

“Jangan menambahkan embel-embel ‘-ssi’ lagi. Terdengar sangat resmi di telingaku.” kataku. Aku memang tidak terbiasa jika seseorang memanggilku dengan panggilan ‘Pyung Ho-ssi’.

“Ah baiklah, boleh aku memanggilmu ‘oppa’?” tanyanya ragu-ragu.

“Ne, tentu saja.”

“Kalau begitu, boleh aku menanyakan sesuatu, oppa?” tanyanya tiba-tiba.

“Ne. Apa yang ingin kau tanyakan?”

“Kenapa kau tinggal sendirian di rumah sebesar ini? Dimana orang tuamu?”

“Orang tuaku sudah tidak ada dan aku adalah anak satu-satunya.” jawabku. Aku jadi teringat kembali pada appa dan eomma.

“Oh, mianhae, aku tidak bermaksud…”

“Tidak apa-apa.” potongku segera setelah melihat wajah bersalahnya. “Setelah orang tuaku meninggal sebenarnya aku menolak tinggal disini lagi karena aku pasti akan merasa kesepian tinggal sendirian di rumah sebesar ini. Tapi rumah ini adalah satu-satunya peninggalan yang penuh kenangan dari orang tuaku. Kupikir, aku harus menjaga dan merawatnya dengan baik.” jelasku.

“Orang tuamu pasti bangga memiliki seorang anak yang sangat baik sepertimu.” aku hanya tersenyum mendengarnya. “Bagaimana dengan pekerjaanmu?”

“Aku baru saja lulus kuliah beberapa bulan yang lalu. Aku kuliah di bidang astronomi. Dan sekarang aku sedang melakukan penelitian agar bisa diterima menjadi asisten dosenku.”

“Wow, kedengarannya menyenangkan.” matanya menyiratkan kekaguman.

“Tentu saja. Bagaimana denganmu? Dilihat dari wajahmu yang masih sangat muda, sepertinya kau seorang pelajar. Apakah aku salah?”

“Ani, kau benar. Aku salah satu mahasiswi tingkat 3 di Kyung Hee Cyber University.”

“Kyung Hee Cyber University? Aku sempat akan mendaftar ke sana, tapi guruku bilang lebih baik aku memperdalam ilmu astronomiku di universitas lain.”

“Jinjja? Mungkin kita bisa berteman baik kalau kau kuliah disana.” katanya dengan senyum indah yang sangat mempesona. Dia pun kembali memusatkan perhatiannya pada catatan yang ia pegang.

***

Tepat seminggu setelah Min Kyung tinggal di rumahku, aku mengajaknya berkemah di padang rumput yang lokasinya tak jauh dari rumah. Sekalian aku harus meneliti kabut kecil yang kuprediksikan akan datang sore ini.

Dia sudah tidak canggung lagi padaku sekarang. Yang bisa kusimpulkan adalah dia gadis yang baik dan menyenangkan. Keberadaan Min Kyung membuat suasana rumah terasa lebih hidup.

“Ya! Jangan lari-lari seperti itu! Nanti kau jatuh…!” teriakku pada Min Kyung yang sedang berlari sambil tertawa-tawa di sekitar padang rumput. Ia hanya membalasnya dengan lambaian tangan yang kubalas lagi dengan hal serupa.

Ya Tuhan…tawanya itu bukan main manisnya, seperti bidadari yang senang karena baru menginjak bumi. Mungkin ia tak pernah merasakan kebebasan seperti ini selama ia tinggal dengan kakak angkatnya. Sebenarnya aku ingin bermain-main dengannya, tapi aku terlalu sibuk memasang teropong bintang yang aku bawa-bawa dari rumah setelah membangun tenda.

“Hmm…mana? Aku tidak melihat kabut dari tadi.”

“Sabarlah. Kabut itu kecil dan berwarna abu-abu, melesat cepat dan kemudian menghilang.”

“Sebenarnya itu kabut apa?”

“Molla. Setelah penelitian ini selesai, aku harus mencari tahu data tentang kabut itu. Dugaanku kabut itu…eh, sepertinya sudah muncul, coba kau lihat!” titahku sambil menujukan keberadaan kabut yang kumaksud. Min Kyung langsung melihatnya dalam teropong bintang.

“Oh, itu dia! Aku melihatnya! Tunggu, tunggu…yah, sudah hilang..!!!” ucapnya kecewa. Dia benar-benar seperti anak kecil.

“Tentu saja hilang, kabut itu memang munculnya hanya sebentar. Otte? Indah kan?”

“Ne, indah sekali…!” ia tersenyum sangat manis padaku. Haahh…aku bingung kenapa ia tidak digigit semut. Senyumnya itu, aku yakin semut pun suka dengan senyumannya.

Min Kyung benar-benar baik. Ia mendukung sekali pekerjaanku. Kadang dia membantuku membuat laporan atau memeriksa hasil laporanku.

Malam ini segalanya indah. Aku mencium bintang yang paling terang malam ini. Bintang yang selama beberapa hari belakangan ini mengisi hari-hariku. Sepertinya, aku telah jatuh cinta pada bintang itu.

Tapi sekilas, saat aku menatap wajah cantiknya yang sedang tersenyum, bayangan yeoja itu muncul…

Pyung Ho’s POV End

***

Min Kyung’s POV

Sudah banyak hal-hal yang membuatku tahu keseharian Pyung Ho oppa. Dia pun tahu aku suka melukis. Tentu saja dia tahu, setiap sore aku selalu memegang pensil dan buku yang dia berikan. Kebanyakan lukisanku bergambar wajah Pyung Ho oppa. Entah kenapa belakangan ini aku selalu berdebar jika dekat denganya. Apakah aku mulai memiliki perasaan lebih padanya? Mungkin.

Sore ini aku melihatnya tertidur di meja kerja. Sepertinya kerjaan yang menumpuk itu membuatnya lelah. Karena tidak ingin membangunkan, aku membiarkan dia tidur disana. Kututup tubuhnya dengan selimut karena cuaca hari ini memang agak dingin.

Mataku tertuju pada sebuah album foto yang terbuka di meja kerja Pyung Ho oppa. Semua isinya hanya foto Pyung Ho oppa dan seorang yeoja muda yang tak kukenal. Siapa yeoja ini? Apakah dia kakak perempuanya? Ataukah…

Min Kyung’s POV End

***

Author’s POV

“Pekerjaanmu, apa sudah selesai semua oppa?” tanya Min Kyung saat mereka duduk di teras belakang. Langit sore terlihat indah sekali dari sini.

“Sedikit lagi. Kau bantu aku menyelesaikannya ya nanti.”

“Ne.” jawab Min Kyung. Mereka terdiam selama beberapa menit, menikmati indahnya pemandangan langit sore.

Apa sebaiknya kutanyakan saja? Pikir Min Kyung yang tiba-tiba teringat pada album foto yang tadi siang ia lihat. Yeoja dalam album foto itu benar-benar membuatnya penasaran.

“Oppa…” kata Min Kyung yang akhirnya membuka pembicaraan.

“Ne?” jawab Pyung Ho tanpa menatapnya.

“Boleh aku menanyakan sesuatu?”

“Tanyakan saja…”

“Aku melihat album foto di meja kerja oppa tadi. Isinya hanya foto-foto oppa dan seorang yeoja yang sangat cantik. Siapa yeoja itu?”

Pyung Ho tampak diam berpikir. Apakah dia harus memberitahu Min Kyung? Apakah Min Kyung berhak tahu siapa yeoja itu? Sesaat Pyung Ho bingung, tapi akhirnya ia memutuskan untuk memberitahu Min Kyung.

“Dia…kekasihku.” jawab Pyung Ho singkat. Hati Min Kyung mencelos. Bukan itu jawaban yang ia harapkan. Kalau Pyung Ho sudah memiliki kekasih, lalu kenapa dia menciumku saat sedang berkemah? Pikir Min Kyung jengkel.

“Kekasihmu?” ulang Min Kyung masih tak percaya.

“Ne. Tapi, dia menghilang…”

“Menghilang? Kemana dia?” tanyaku kaget.

“Mana aku tahu. Kalau aku tahu, bukan menghilang namanya.” kata Pyung Ho diiringi senyum tipis.

“Ah, mian. Siapa namanya?”

“Kim Hye Seol.” sepintas kenangan-kenangan antara dirinya dan Kim Hye Seol kembali muncul. Pyung Ho sangat mencintai gadis itu, lebih dari apapun. Tapi dia telah menghilang entah kemana. Dan yang ada disisinya saat ini adalah Kang Min Kyung.

“Jika Hye Seol kembali lagi, siapa yang akan kau pilih oppa? Aku atau dia?” ucap Min Kyung yang sudah tidak bisa menyembunyikan perasaannya lagi. Pyung Ho yang kaget pun hanya bisa diam memandang Min Kyung.

“Wae oppa? Ada yang salah?” pertanyaan itu menyadarkan Pyung Ho. Apa yeoja ini mulai mencintainya seperti dia yang mulai mencintai yeoja ini? Apakah ia harus terus terang tentang perasaannya ini? Mungkinkah Tuhan mengirim Min Kyung sebagai pengganti Hye Seol?

“Ah, ani. Jujur, belakangan ini jantungku selalu berdetak lebih cepat jika berada didekatmu. Mungkin, aku sudah mulai mencintaimu, Min Kyung…” jawab Pyung Ho diiringi senyum. Senyum yang sempurna di mata Min Kyung.

“Jeongmal?” terlihat ekspresi kaget sekaligus senang di wajah Min Kyung. “Kalau begitu, kau lebih memilih aku daripada Hye Seol?”

Pyung Ho bingung bagaimana ia harus menjawab. Masalahnya, Hye Seol tidak akan pernah kembali. Dan juga cintanya pada Hye Seol lebih lama daripada cintanya pada Min Kyung.

“Mungkin aku akan memilihmu. Menutup lembaran lama dan membuka lembaran baru adalah hal yang harus setiap orang lakukan. Cinta memang bukan hal yang bisa aku mengerti. Cinta juga bukan hal yang bisa kucegah datang dan perginya. Tapi denganmu, aku rasa aku bisa lebih baik.”

“Aku senang mendengarnya oppa. Kau orang baik. Saat pertama kali bertemu pun, aku tahu kau orang baik. Orang yang aku butuhkan saat ini. Aku mencintaimu oppa…” Min Kyung menyandarkan kepalanya di bahu Pyung Ho.

“Nado.” Pyung Ho rasa ia telah melakukan hal yang benar. Dia memang sangat mencintai Hye Seol, tapi yang menemani hari-harinya saat ini adalah Min Kyung. Pyung Ho tak bisa lagi melihat Hye Seol.

“Apakah kau mau berjanji untuk terus mencintaiku oppa?”

“Selama kau terus berada di sisiku, aku berjanji.”

Begitulah awal cinta mereka dimulai. Cinta yang manis. Namun tak ada satupun yang menyadari bahwa cinta itu hanya sesaat.

***

Hari-hari berikutnya terasa begitu cerah bagi Min Kyung dan Pyung Ho walaupun terkadang matahari bersembunyi di balik awan. Mereka bahagia, saat ini. Pyung Ho menikmati kehidupannya bersama Min Kyung. Kini perasaannya semakin besar pada yeoja itu.

Ya, semakin besar. Sampai saat itu tiba…

Ibyeori mwonji naneun mollayo, geunyang seoreobgo seoreowo…

Ponsel Pyung Ho berdering ketika ia sedang membersihkan teropong bintang kesayangannya. Siapa ini? Nomornya tak kukenal, pikirnya.

“Min Kyung-a, tolong kecilkan televisinya! Ada seseorang yang meneleponku.” perintah Pyung Ho pada Min Kyung yang sedang menonton televisi sambil menikmati cemilan. Tanpa menjawab, Min Kyung langsung mengecilkan volume televisinya sampai benar-benar tak bersuara.

“Yeobeosseo?”

“Kenapa kau mengambil sampah yang telah aku buang dan membuat masalah?” jawab seorang namja tiba-tiba tanpa basa-basi.
Pyung Ho pun terkejut. Pasalnya, namja ini terkesan sedang marah walaupun nada bicaranya rendah. “Siapa ini?”

“Dengar baik-baik. Kau memiliki kekasih bukan?” tanya namja itu lagi tanpa menjawab pertanyaan Pyung Ho. Sepintas Pyung Ho membaca judul berita di koran yang terletak di atas meja kerjanya (Seorang Mahasiswi Menghilang Tanpa Jejak, Kemana Ia Pergi?).

“Seseorang yang menghilang. Ia ada denganku saat ini. Mari bertukar. Aku memerlukan gadis itu.” siapa sebenarnya namja ini? Apa dia sedang membicarakan Min Kyung dan…Hye Seol?

*Berita di TV : 5 Tahun Yang Lalu, Seorang Wanita Yang Dulu Hilang Kini Muncul Kembali.*

***

Sore ini indah, pikir Min Kyung. Ia merasa senang Pyung Ho mengajaknya pergi ke padang rumput penuh ilalang ini. Walaupun sempat merasa aneh karena Pyung Ho memang jarang mengajaknya jalan-jalan keluar seperti ini, tapi ia senang.

Udara sore bermain-main di seluruh kulitnya yang terbuka, segar sekali. Suara burung berkicauan lembut, sangat merdu didengar. Ilalang pun menari ke kanan dan ke kiri dengan lembutnya, membelai kaki dan lengan Min Kyung.

Tapi sepertinya Pyung Ho tak merasakan apa yang Min Kyung rasakan. Dia tak mamapu berkata-kata saat ini. Pertanyaan itu terus mengiang di pikirannya. Apa ini benar? Apa ini benar? Apa ini benar?

Akhirnya mereka tiba di tempat perjanjian. Seketika langkah Min Kyung terhenti. Mimpikah ia saat ini? Apa yang sebenarnya sedang terjadi?

Itu mobil kakaknya, kakak angkatnya. Untuk apa dia datang kemari? Darimana ia tahu keberadaannya? Rasa takut menjalari hati Min Kyung. Bayangan kekejaman kakaknya pun terlintas lagi di benaknya.

Dengan siapa dia datang? Siapa yeoja itu? Min Kyung bertanya-tanya siapa yeoja yang berdiri di samping kakaknya. Dia merasa mengenalnya. Yeoja itu…Kim Hye Seol!

Sedikit demi sedikit Min Kyung mengerti tujuan Pyung Ho mengajaknya pergi ke tempat ini. Dadanya tiba-tiba sesak. Setega itukah dia? Pernyataan cinta itu, apa artinya? Perlakuan baiknya selama ini, apa artinya? Apakah perasaan cintaku selama ini tidak ada artinya sedikitpun untuknya? Apa selama ini dia hanya berpura-pura mencintaiku? Pikir Min Kyung sedih bercampur gelisah.

“Kajja…” Pyung Ho menarik lengan Min Kyung, yang langsung ditepis olehnya.

“Shireo!” Min Kyung menatap kedua mata Pyung Ho, mencari apakah ada cinta untuknya, atau setidaknya belas kasihan untuknya.

Pyung Ho bingung. Apa yang harus ia lakukan? Melakukan perjanjian itu, atau kembali pulang? Tapi kini Hye Seol kembali. Bunga cintanya yang hilang kini ada di depannya.

Baru selangkah Pyung Ho berjalan, Min Kyung sudah menahannya. “Kajima..kajima…kajima…” Min Kyung memohon pada Pyung Ho. Yang Min Kyung butuhkan hanyalah cinta dan belas kasihan Pyung Ho. Ia sangat mencintai Pyung Ho. Sangat mencintainya. Min Kyung tak ingin kembali pada kehidupan masa lalunya yang kelam. Yang ia butuhkan hanyalah Pyung Ho, bukan kakak angkatnya.

Pyung Ho benar-benar diliputi rasa bingung sekarang. Min Kyung, dia memang mencintai yeoja ini. Tawanya, candanya, kepolosannya, sifat baiknya, semua ia suka. Yeoja ini telah membuatnya jatuh cinta walaupun ia baru mengenalnya seumur jagung.

Tapi Hye Seol, dia harga mati. Lima tahu Pyung Ho menjalin cinta kasih dengannya. Ia sadar begitu susahnya mendapatkan hati Hye Seol. Rintangan-rintangan yang lalu itu, apakah ia akan membuangnya begitu saja? Lima tahun bukanlah waktu yang sebentar. Pyung Ho terlalu mengenal Hye Seol, begitu juga sebaliknya. Sementara Min Kyung, walaupun ia mencintainya, tapi ia belum mengenal diri Min Kyung sepenuhnya. Min Kyung masih terlalu asing baginya.

Kenangan-kenangan dirinya dan Min Kyung terpintas lagi di pikirannya. Tentang bagaimana Min Kyung bisa membuatnya tersenyum walaupun itu hanya hal kecil. Tentang bagaimana Min Kyung bisa membuatnya tenang hanya dengan melihat wajahnya. Ia cantik dan terlalu sempurna untuknya. Jadi, apa yang harus aku lakukan? Pikir Pyung Ho.

Tidak semua cinta membahagiakan pada akhirnya. Seperti Pyung Ho yang melepaskan tangan Min Kyung dengan paksa dari lengannya dan berjalan menuju Hye Seol.

Min Kyung akhirnya tahu bahwa tidak ada lagi cinta untuknya. Semuanya berakhir sampai disini. Pyung Ho sudah memilih pilihannya. Dia sudah melupakan janjinya untuk tetap mencintai Min Kyung. Janji itu kini hanya tinggal janji.

Min Kyung merasa seperti sebuah barang yang sudah tak terpakai lagi dan ditukarkan dengan barang lain yang lebih menarik. Itulah pertukaran. Pertukaran secara sepihak yang tak pernah diinginkan Min Kyung. Ini menyakitkan. Terlalu menyakitkan malah. Pyung Ho lebih memilih Hye Seol dibandingkan dirinya.

Dia hanya bisa mengeluarkan air mata melihat Pyung Ho berjalan menjauh. Tak percaya dengan kenyataan yang menimpa dirinya. Cintanya dikhianati oleh masa lalu. Hatinya sakit bukan main.

Pyung Ho bahkan tak menoleh pada Min Kyung saat kakaknya menariknya paksa ke dalam mobil. Dengan tenang ia berjalan menjauh bersama Hye Seol, kekasihnya. Tak peduli berapa kalipun Min Kyung memanggil namanya, menangis untuknya, dan memohon padanya, Pyung Ho tetap tidak akan mengubah keputusannya dan berjalan semakin menjauh. Dia tak akan pernah kembali, seperti cintanya yang tak akan pernah kembali pada Min Kyung.

-The End-

Membingungkan? Tidak mengherankan. Maaf aku juga bukan author ff yang pro, jadi gak bisa mindahin secara sempurna dari bentuk video ke teks. Kalau mau puas, liat aja mv-nya. Nih=>

Tidak ada komentar:

Posting Komentar